Memakai Atribut Natal

(Sumber : Konsultasi AgamaRepublika, Jumat, 7 Januari 2011 / 2 Shafar 1432)

Tanya:

Kita baru saja memasuki tahun 2011. Dan seminggu sebelumnya, umat Kristiani merayakan Natal. Di Indonesia, banyak perusahaan yang dikelola oleh orang non-Muslim dan mempekerjakan karyawan yang Muslim. Karena diperintahkan atasannya, mereka terpaksa memakai simbol atau atribut tersebut. Jika tidak, mereka akan dipecat. Bagaimanakah atau hukumnya bagi umat Islam yang memakai simbol atau atribut Natal itu?  Mohon penjelasan ustaz.

(Maswadi Anwar, Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Jawaban :

Allah Maha Pemberi Rezeki ( ar-Razzaq ) sekaligus Penguasa ( al-Malik ) seluruh kerajaan Langit dan Bumi, tak satu pun yang dapat mencampuri urusan rezeki-Nya sebagaimana tak seorang penguasa pun di muka bumi yang tak dikendalikan oleh kekuasaan-Nya. Seorang mukmin menyadari sepenuhnya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya yang dapat memenuhi kebutuhan dan  yang  merealisasikan  semua  harapan  dan   permintaan ( al-Ahadush Shamad ).

Jika demikian, betapa tenteramnya hamba yang merasa cukup bersama Allah dan bangga dengan simbol-simbol Allah SWT. Mukmin yang bangga dan mengagungkan simbol-simbol Allah menunjukkan hakikat ketakwaannya dalam hati. Demikianlah  perintah Allah. Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. ( QS. Al-Hajj [ 22] : 32 ).

Rasululah SAW mengingatkan agar umat Islam menjauhi simbol-simbol ritual kafir. Dari  Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa bertasyabuh / menyerupai dengan suatu kaum, ia bagian dari mereka.” ( HR Abu Dawud ).

Dalam banyak hal, syariah Islam yang dibawa Muhammad SAW memiliki karekteristik cenderung membedakan tata cara ibadah dan simbol-simbol ritualnya dengan agama lain, termasuk larangan menggunakan simbol-simbol Natal bagi pegawai-pegawai Muslim.

Di Indonesia, yang sangat menghargai perbedaan keyakinan ini, para pegawai Muslim berhak untuk menolak diintervensi keyakinannya dan dilindungi haknya oleh undang-undang,  jika menolak menggunakan simbol-simbol Natal dalam pekerjaannya.

Alhamdulillah, pihak Majelis Ulama Indonesia telah mengimbau saudara sebangsa dari kalangan Nasrani agar tidak berlebihan/overacting dalam memamerkan simbol-simbol Natal di tempat-tempat umum demi melindungi akidah umat Islam sekaligus membela hak-hak pegawai yang terintimidasi akidahnya.

Jika ada pegawai Muslim yang merasa terintimidasi hak-hak berkeyakinannya oleh atasan di tempat ia bekerja atau menghadapi ancaman pemecatan sekalipun, saya berpesan ‘jangan kafir walau sebentar dan jangan syirik walau sesaat, jangan sampai seorang Muslim bertoleransi dengan mengorbankan prinsip dan keyakinannya’. Wallahu a’lam bish-shawab ■


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s